DOA DAN PERJUANGAN

(Kreatifitas Mahasiswa) – Namaku Puji, anak tengah dari tiga bersaudara. Aku anak perempuan satu-satunya dikeluarga, aku memiliki seorang abang dan satu orang adik laki-laki, aku tinggal bersama dengan ibu dan adikku. Abang ku sudah menikah dan pindah kerumahnya di Meulaboh. Ayah ku meninggal pada saat aku berumur 17 tahun tepatnya saat aku duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA.

Waktu aku telah lulus dari SMA aku sempat bingung mau kemana arah selanjutnya. Pada saat itu datanglah teman ayah ku yang menawari ku untuk berkuliah di Jakarta dengan alasan supaya anaknya memiliki teman saat di rumah, karena kebetulan teman ayah ku ini sangat sibuk dengan pekerjaannya begitu pun dengan istrinya sehingga anaknya di rumah hanya tinggal dengan asisten rumah tangga. Kemudian setelah mendengar penjelasannya aku pun bertanya kepada ibuku apakah dia mengizinkan ku berkuliah di Jakarta dan ikut tinggal bersama mereka.

Lalu ibu ku menjawab “Ibu terserah kamu saja nak bagaimana baiknya” aku masih ragu karena aku memikirkan Jakarta itu jauh dan aku tidak tega meninggalkan ibu ku. Sepertinya teman ayah ku mengetahui kalau aku kelihatan seperti orang yang kebingungan lalu dia berkata “ya sudah kalau begitu di pikirkan lagi saja, nanti kalau bersedia dengan tawaran saya silahkan hubungi saya lagi”. Lalu aku mengiyakan perkataan teman ayah ku.

Saat itu covid-19 sedang gempar di Indonesia, banyak korban yang berjatuhan karena keganasan covid-19. Setiap kali aku menonton televisi di rumah, aku melihat berita begitu banyak orang yang positif covid-19 dan banyak orang yang meninggal dunia. Keraguan mulai melanda diriku, aku takut kalau aku berangkat ke Jakarta tidak tertutup kemungkinan bahwa aku bisa saja terkena virus covid-19. Belum lagi aku harus bertemu dengan orang-orang yang aku tidak tahu apakah mereka sehat atau tidak. Akhirnya aku mendiskusikan lagi kepada ibuku “Bagaimana ini bu, aku takut kalau aku berangkat aku akan bertemu banyak orang. Kalau aku tiba-tiba saat sampai disana pas di swab dinyatakan positif terjangkit virus covid- 19 bagaimana, aku tidak mau mati sia-sia bu”, lalu ibu menjawab “Ibu terserah kamu saja bagaimana baiknya, kalau kamu tidak mau berangkat ibu tidak bisa memaksa”.

Hari-hari ku lalui dengan berdiam diri di rumah sambil merenung bagaimana masa depan ku, aku selalu berdoa meminta kepada Tuhan supaya virus covid-19 ini segera pergi dari Indonesia. Ekonomi keluargaku yang susah membuat hidup kami semakin terpuruk, ibuku hanya pekerja buruh pabrik bahkan sering kali pabrik di tutup karena virus covid-19.

Suatu ketika aku pergi menemui sahabat ku yang bernama Isra, kami berbincang-bincang sampai dia menawari ku kuliah di salah satu universitas yang ada di Banda Aceh. Katanya di universitas itu ada beasiswa, kebetulan abang sepupunya kuliah dikampus tersebut dan menawarinya untuk masuk kampus itu. Sedikit cerita tentang sahabat ku isra dia adalah anak yang baik dan juga cantik.

Aku buru-buru pulang ke rumah dan menghampiri ibuku yang sedang di dapur, “Bu aku tadi di tawari si Isra untuk berkuliah, dia bilang kuliahnya gratis karena di universitas itu ada beasiswanya”, lalu ibuku menjawab “Boleh” saat itu aku senang sekali karena akhirnya aku bisa berkuliah. Lalu aku kembali ke rumah sahabat ku itu aku mengatakan bahwa ibuku setuju dan sahabatku memperlihatkan apa-apa saja syarat untuk tes di universitas tersebut, kemudian aku melihatnya dengan seksama. Lalu aku berkata baik akan segera aku lengkapi persyaratannya.

Singkat cerita tibalah pada saatnya, kami pergi tes ke universitas tersebut, aku dan sahabatku berangkat menggunakan kapal Ferry, kebetulan rumah ku di pulau jadi harus menyebrang lautan jika mau ke daratan. Sesampainya kami di Banda Aceh kami menginap di kos saudaranya sahabat ku. Keesokan harinya kami pun melaksanakan tes di universitas tersebut, tidak lupa kami memakai masker dan menjaga jarak dengan orang-orang yang begitu ramai di sana. Kebetulan aku dan sahabatku mendapatkan ruangan tes yang berbeda, saat tes akan segera di mulai aku berpamitan kepadanya untuk kembali ke ruangan tes dia pun begitu, saat tes berlangsung aku berdoa semoga aku lulus dan aku begitu serius saat mengisi dan menjawab setiap pertanyaan yang di berikan. Singkat cerita tes pun telah selesai aku dan sahabatku bertemu kembali di dekat musholla kampus dan kami berjalan kembali pulang ke kos. Seminggu kemudian keluarlah nama-nama yang lulus tes, kami bergegas untuk segera ke kampus dan melihat nama kami “Alhamdulillah” kami berdua di nyatakan lulus mendapatkan beasiswa, aku sangat senang dan memeluk sahabat ku yang berada di samping.

Segera aku mengabari ibuku, “Ibu aku diterima” ibuku sangat senang saat aku memberi tahu bahwa aku lulus tes. Hari demi hari telah berlalu aku berkuliah dengan lancar dan tak terkendala apa pun aku mengunakan uang beasiswa ku dengan bijak supaya aku tidak meminta lagi uang kepada ibuku mengingat ibuku juga kesulitan ekonomi.

Aku bahagia setidaknya dengan aku berkuliah dan mendapatkan beasiswa dari kampus aku dapat mengurangi beban ibuku.

Sekarang aku sudah memasuki semester tujuh sehingga membuatku sedikit sibuk mencari sumber untuk menulis skripsi. Kelak, harapan ku akan menjadi guru di kampungku. Dan ingin membangun kampungku yang tergolong masih sangat tertinggal. Aku ingin dari kampungku lahir banyak cendikiawan-cendikiawan yang hebat. Ini sebuah impian besar yang sedang aku perjuangkan saat ini.

Tidak dapat dimungkiri kerinduan yang menggebu- gebu di hatiku terhadap kampung halamanku terlebih terhadapa ibu dan adiku, karena hampir satu tahun aku tidak pulang kampung halaman dan aku sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kuliahku baru aku pulang membawa kejutan akan kesuksesanku. Semoga….

Penulis

Nama : Puji Lestari Pratiwi

Mahasiswa Pend. Bahasa Indonesia Universitas Serambi Mekkah 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.